Intuisi-ku Untuk Sang Guru.

Intuisi-ku Untuk Sang Guru.

Intuisi-ku Untuk Sang Guru.
(Catatan pinggir kenangan bersama ust Incep saifuddin Syukari)

Hermanto Harun
(Alumni DM Angkatan II)

Perjalanan hidup memang selalu berselimut mesteri dan penuh teka teki. Ketentuan perjalanan kehidupan merupakan rahasia yang tidak seorang-pun bisa memastikan apa yang akan terjadi pada dirinya. Hal ini senapas dengan ungkapan “al-nas bi tafkir, wallahu bi taqdir”, kekuatan manusia hanya sebatas berfikir dan merencanakan, namun ketentuan pastinya merupakan hak prerogatif Allah, sang Maha Penentu. Begitulah rahasia perjalanan kehidupan, yang semua dinamikanya bernaung di dalam wilayah taqdir.

Pertengahan tahun 1992, jarum taqdir mengarahkan gerak kakiku melangkah gontai menuju pulau Jawa. Terasa tidak mungkin untuk sampai ke pulau yang penuh sesak oleh manusia ini, walau, kata mustahil juga tidak pernah menjadi kata penutup dalam mengungkai setiap huruf cita-cita .

Derap langkah penuh optimis menuju ibu Kota. Maksud hati ingin memeluk gunung kesuksesan di perantauan, dengan jangkauan tangan yang terasa mustahil untuk sampai. Tapi optimisme mengejar masa depan tak pernah surut, ghirah-pun tak pernah padam. Bermodalkan cita, kemudian do’a dan linangan air mata  bunda, serta azam yang senantiasa memupuk semangat untuk bermujahadah menjemput mimpi yang seolah ilusi. Ku eja langkah demi langkah, sambil menundukkan kepala dan penuh harapan serta do’a, akhirnya, tulisan taqdir telah menggoreskan perjalanan cita-ku di Pondok Pesatren Darul Muttaqien. Sebuah lembaga pendidikan Islam yang berdiri di sudut kota Tangerang. Waktu itu masih terkesan pinggiran, tapi penuh nuansa kesederhanaan.

Disini, sejuta asa terungkai, segunung cita terbangun, mengeja setiap huruf cita yang masih berserakan dalam mimpi-mimpi masa depan. Keluh kesah, suka duka, tangis dan tawa, semua menjadi irama yang mengitari setiap usaha meraih cita. Di sini juga, ada segunung kenangan tentang realitas kehidupan yang tidak mudah untuk dilupakan, terutama nostalgia bersama sang guru dan pendidik sekaligus. Walau kini dia telah pergi, kenangan bersamanya seolah guru yang selalu hidup, mengajarkan setiap derap langkah kehidupan di dunia nyata. Petuahnya seolah telaga, mengucur dari pancuran pengetahuan yang selalu penuh hikmah dan makna.

Dia adalah sang guru dengan nama sederhana, H Syaifuddin Syukari, yang akrab disapa oleh kami sebagai murid-muridnya; ustaz Incep. Nama yang sepi dari deretan gelar akademis, juga panggilannya yang sangat biasa dalam tradisi Sunda. Ustaz Incep, panggilan sederhana itu, agaknya kurang begitu istimewa dalam lingkungan pesantren kami. Karena, gelar dan penggilan ustaz bisa disandang oleh siapapun yang mengajar di pesantren, baik dalam kelas formal maupun non-formal. Bahkan, bagi kami para murid yang baru “menetas” dari eraman disiplin pondok-pun, sudah akrab dengan panggilan ustaz.

Namun, panggilan biasa “ustaz” Incep, nampaknya tidak membuat beliau gusar, apatah lagi menjadikan panggilan ini sebagai jarak antara sang guru dengan murid. Seingat saya, beliau tidak pernah meminta untuk dipanggil sebagai kiyai, walaupun, panggilan ustaz atau kiyai dalam tradisi pesantren tradisional mempunyai nilai ‘kasta’ dan strata sosial keagamaan yang berbeda. Klasifikasi ini kadang bisa dimengerti, mengingat, dalam paradigma ke-pesantrenan, setiap kiyai pastilah ustaz, tapi tidak semua ustaz itu kiyai.

Kasta panggilan keagamaan seperti di atas, barangkali berangkat dari realitas sosial keagamaan masyarakat yang ingin memberi penghargaan yang patut kepada para ulama. Penghargaan tersebut akhirnya terpilah kepada tingkatan pengetahuan yang dimiliki oleh ulama tersebut. Namun lambat laun. Penghargaan itu terperangkap dalam kastaisme formal, yang akhirnya diseksploitasi dengan orientasi merenggut pengakuan masyarakat awam. Sehingga label keduanya, kiyai dan ustz, harus terpisah. Walaupun, di berbagai tempat, kedua panggilan sosial keagamaan tadi tidak memiliki signifikansi otoritas, mana yang lebih memiliki kapabilitas dibanding yang lain.

Agaknya, di mata ustaz Incep, panggilan apapun tidak akan mengganggu kesungguhan beliau untuk mengabdi kepada agama, khususnya dalam menggambleng para santrinya di Darul Muttaqien. Kesungguhan pengabdian itulah yang menjadi nafas, sehingga nuansa keikhlasan menyengat dalam setiap tindakan yang beliau lakukan. Nuansa keikhlasan itu setidaknya terpotret dalam kegigihan beliau dalam mencari sesuap rezeki bagi kecukupan hidup kelurga di luar pondok. Meskipun, dengan statusnya sebagai anak murabb dan naib al-mudir, dapat memberi alibi untuk dapat “mengeksploitasi” kampus Darul Muttaqien sebagai sumber utama dalam merenggut materi.

Tapi, kesempatan “aji mumpung” ini tidak beliau lakukan. Pola hidup yang penuh kesederhanaan dan penuh percaya diri terhadap makna pengabdian, nampaknya mendarah daging, sehingga kadang-kadang beliau harus mengabarkan kepada santrinya bahwa ia berhalangan masuk kelas. Walau ini sangat jarang terjadi.

Dengan nafas sedikit terengas, langkah gesit beliau dalam menapak anak-anak tangga menuju gedung asrama lantai tiga, untuk mengajar tidak pernah surut. Semangat mengajar materi nahwu alfiyah (gramatika bahasa arab) dengan pola syair yang diajarkan kepada santrinya seolah mererekam kegigihan tentang pentingnya memamahi status dan tempat kata dalam bahasa Arab. Engas nafas itu mengiang dalam memori para santri yang pernah mengais ilmu dengan beliau. Juga, dalam tarikan nafas itu menyimpan pesan bahwa tantangan masa depan jauh lebih konpetitif, terutama dalam percaturan pergaulan global.

Pesan-pesan yang yang disampaikan beliau secara tersirat itu, menjadi energi dalam menguatkan cita para santri. Dengan suaranya yang sedikit serak, panggilan-panggilan yang meneguhkan semangat belajar para santriwan, seolah menjadi mesiu yang selalu memacu, menggerakkan militansi mengais ilmu yang kadang seringkali melemah.

Sugesti yang selalu memompa militansi para santri dalam menjemput pengetahuan itulah yang menjadi kenangan abadi, khususnya kepada saya. Suatu ketika, saat saya sedang studi di Universitas al-Azhar, Kairo, ust Incep mengirim surat kepada saya: ananda, belajarlah dengan giat, dan raih prestasimu setinggi  mungkin, karena tantangan masa depan jauh lebih berat. Untuk ananda, saya kirim suatu amalan, hendaklah membaca surat al-Insyirah “alam nasyrah” berulang kali, utamanya selepas melaksanakan solat fardu.”

Dengan tulisan gaya miringnya yang khas, banyak pesan yang tertuang dalam surat bersejarah dalam perjalanan pendidikan saya itu, mengingat, itulah satu-satunya surat yang pernah dikirim oleh seorang guru kepada saya. Dan rupanya surat itu sekaligus juga sebagai pesan terakhir, karena beberapa bulan setelah surat itu saya baca, terdengar kabar, bahwa beliau telah tiada. Ya rabb, ampunkan dosa guruku, yang telah memberiku segudang pengetahuan. Amin.

DR. H. Hermanto Harun, Lc, MHi (Angkatan ke II DM (LEGIS)                
Dosen Fakultas Syariah, IAIN STS Jambi     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: